PUSAKA SAUJANA DANAU TOBA
Abstrak
Danau Toba dan
kalderanya merupakan serpihan alam Pulau Sumatera yang sering dikenal sebagai
pembentuk pulau dalam pulau yaitu Pulau Samosir. Kedua bagian alam tersebut
telah membentuk komunitas Batak sebagai masyarakat utama Pulau Samosir dan
sekitarnya dengan beragam kharakter masyarakat yang menghuninya. Kekayaan alam
dan budaya kawasan Danau Toba dalam sejarah panjangnya telah membentuk pusaka
saujana yang merupakan bentukan rangkaian alam dan aktivitas masyarakat yang
saling mendukung. Interaksi alam dan masyarakat yang telah berlangsung lama
dengan periode-periode terntu mengalami perubahan menjadikan fragmenfragmen
tersebut layak untuk dipahami sebagai sesuatu sistem pusaka saujana Danau Toba.
Oleh karena itu, pada tulisan ini diuraikan ruang-ruang pembentuk pusaka
saujana Danau Toba yang saat ini rentan akan kerusakan, baik kerentanan pada
fisik lingkungan alamnya maupun budaya masyarakatnya yang terkontaminasi oleh
kepentingan pariwisata massal. Perubahan demi perubahan mulai terjadi di
kawasan Danau Toba baik dalam kurun waktu pembentukan komunitas maupun dalam
periode pengembangan kawasan sebagai kawasan pariwisata saat ini. Tujuan dari
tulisan ini adalah melihat ruang pusaka saujana dari aspek arsitektur dan
perencanaannya sebagai bagian dari pengembangan pariwisata yang saat ini sedang
dikembangkan di Kawasan Danau Toba. Penelusurannya dilakukan dengan metode
grounded research yang memberikan gambaran adanya perubahan harus selalu
disikapi dengan menyeimbangkan kondisi terbaru yang tetap melihat nilai ruang
kawasan dan budaya.
Ruang dengan
keragaman bentang alam dan kehidupan masyarakat menjadi keragaman dalam
penelitian pusaka saujana atau yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dalam
cultural landscape heritage. Pada pemahaman secara luas, pusaka saujana tidak
hanya sebagai pengatur dalam tata ruang saat ini dan pengingat masa lalu, namun
juga sebagai acuan pengembangan tata ruang di masa yang akan datang dengan
mempertimbangkan nilai keruangan yang sudah ada sebelumnya.
Danau dan Kaldera Toba dalam Keruangan Kawasan Pusaka Saujana
Danau Toba
merupakan danau vulkanik dengan perairan dan daratan Samosir yang terbentuk
dari letusan hebat gunung berapi puluhan ribu tahun yang lalu. Sejarah panjang
pembentukan ruang yang terjadi di Danau Toba dengan perairannya, dataran
samosir dan kalderanya menjadi satu rangkaian sistem keruangan. Sistem tersebut
merupakan kepingan-kepingan ruang yang harus selalu terajut dengan baik agar
selalu terjadi keseimbangan tanpa menafikkan adanya perubahan pola pikir
manusia dan kebutuhan ruangnya. Berbagai potensi ruang telah terbentuk ratusan
tahun bahkan ribuan tahun yang lalu dengan kandungan nilai yang tinggi sebagai
cerminan Ruang Pusaka Saujana Danau Toba A 057 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI
2018 budaya masyarakatnya. Aktivitas masyarakat Batak sebagai suku yang banyak
mendiami kawasan telah membentuk ruang yang semakin mempertinggi nilai ruang.
Budaya batak baik yang ragawi (tangible) maupun yang nonragawi (intangible)
telah memberi gambaran bagaimana masyarakat berproses dengan alamnya dalam kurun
waktu yang tidak terbatas.
Pusaka Saujana Danau Toba
Danau Toba
merupakan danau yang dikelilingi oleh 7 wilayah administrasi yaitu Kabupaten
Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang
Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo dan Kabupaten Samosir. Ketujuh
kabupaten tersebut mengelilingi Danau Toba dengan satu wilayah terkelilingi
danau yaitu Kabupaten Samosir. Kabupaten Samosir terdiri dari satu wilayah
besar terkelilingi danau dan sebagai kecil berada di dataran Sumatera.
Danuau Toba
tidak bisa dilepaskan dengan konsep keseluruhan yang termuat dalam proses
tahunan bahkan puluhan ribu tahun yang lalu. Sejarah menjelaskan bahwa Danau
Toba merupakan bentukan dari fenomena alam yang terjadi karena letusan gunung
yang selain membentuk perairan juga membentuk kaldera yang mengelilingi
perairannya. Seiring dengan waktu, bentang alam yang terbentuk menjadi tempat
kehidupan masyarakat khususnya diawali oleh masyarakat suku Batak
Pergerakan
masyarakat suku Batak banyak dituliskan dimulai dari Pusuk Buhit yang dipercaya
sebagai tempat awal kehidupan masyarakatnya. Berbagai dokumen sejarah
menyebutkan masyarakat sangat mempercayai Pusuk Buhit dipercaya sebagai tempat
kelahiran masyarakat Batak yang seiring dengan waktu menyebar di berbagai
wilayah baik di sekitar Danau Toba dan Dataran Samosir maupun di kawasan
sekitarnya. Sejarah juga menjelaskan Bakkara sebagai salah satu jejak penting
dalam perkembangan kawasan Danau Toba. Walaupun pergerakan masyarakat Batak
dari satu kawasan ke kawasan yang lainnya masih belum diketemukan dokumennya.
Sampai saat ini, masih bisa dijumpai jejak-jejak fisik sejarah kedua kawasan
tersebut. Satu persatu permukiman dibangun seiring dengan perkembangan
masyarakatnya yang mendiami kawasan-kawasan yang beragam bentangnya. Sebagian
masyarakat menghuni di daerah perbukitan, namun ada juga yang menghuni di
lipatan kaldera dengan bentang alam yang sangat unik. Selain itu juga mereka
menghuni dataran Samosir yang sekarang lebih dikenal dengan Pulau Samosir
(awalnya Pulau Samosir lebih dikenal dengan Semenanjung Samosir). Pada dokumen
periode kolonial Belanda tertulis “De Poesoek-Boehit, de heilige berg, waar de
eerste Bataks als eerste aardbewoners ontstonden, bleef het symbool van hun
nationale kracht en glorie” (Willen & Blijven, 1925) yang diterjemahkan
bahwa Pusuk Buhit, gunung suci, tempat orang-orang Batak pertama sebagaipenghuni
bumi pertama muncul, tetap menjadi simbol kekuatan dan kejayaan nasional
mereka.
Pusuk Buhit tahun 1925 (sumber foto:
Honing (Willen & Blijven, 1925))
Tertuliskan
dokumen tahun 1938 yang menggambarkan tentang kondisi fisik dataran Samosir dan
Danau Toba (J. Van Hinte, 1938).
“Le centre du pays de Batak est au milieu du
lac: c'est la presqu'ile de Samosir, qui forme le moyen de cette grande region,
aux points de vue geographique et ethnographique. La, le lac se divise pour
ainsi dire en deux parties. Dans la partie septentrionale, appelee le "lac
large", la plus grande longueur est a peu pres egale a la plus grande
largeur. La motie meridionale est tres longue dans la direction est-ouest, et
les differentes parties tirent leurs noms des districs riverains. A l'est, les
deux parties communiquent par un long chenal etroit, tandis que, a l'ouest, ne
le lac a un chenal encore plus etroit, la communication est interrompue par une
bande de terre d'environ 200m de large, ou pied du volcan Poesoek Boehit (2003
m) dans le district de Tanjoeng Boenga. Cet isthme s'appelle Si Ogoeng-Ogoeng
et appartient au district de Pangoeroeran”
yang
diterjemahan sebagai berikut :
“Pusat dari
negeri Batak terletak di tengahtengah danau yaitu semenanjung Samosir, yang
membentuk sarana-sarana wilayah besar, secara geografi maupun sudut pandang etnografi.
Disana, danau terbelah yang dapat dikatakan dalam dua bagian. Bagian Utara,
disebut "danau lebar", yang sisi terpanjangnya kurang lebih sama
dengan sisi terlebarnya. Setengahnya yang selatan sangat panjang membentang
dari Timur ke Barat, dan bagianbagiannya yang berbeda yang dinamai dari
distrik-distrik di tepian sungai. Di sebelah Timur, dua bagian tersambung oleh
sebuah saluran panjang yang sempit, sementara di sebelah Barat, danau bahkan
lebih sempit ketimbang saluran, yang sambungannya terputus oleh sebidang tanah
selebar 200 m, atau kaki gunung Poesoek Boehit (2003 m) di distrik Tanjoeng
Boenga. Tanah genting ini disebut Si Ogoeng-Ogoeng dan dimiliki oleh distrik
Pangoeroeran”
Bakkara dengan
berbagai wilayah lainnya tidak bisa dipungkiri menjadi kekayaan pandangan.
Pemandangan bentang alam yang terbentuk baru dari Pulau Samosir maupun ke Pulau
Samosir menjadi magnet tersendiri. Bentang alam yang luar bisa indahnya selalu
menjadi incaran masyarakat lokal dan pendatang untuk menikmatinya. Kondisi ini
banyak membentuk penginapan bagi para pendatang.
Bentuk alam yang
menarik selain kaldera adalah dengan di atas danau sebagai bentukan aktivitas
vulkanik pada jaman dulu. Danau Sidihoni dan Aek Natonang merupakan dua danau
yang berada di dalam Danau Toba tepatnya di dalam Daratan (Pulau) Samosir..
Keragaman
wilayah yang dihuni masyarakat batak pada umumnya, menunjukkan pusaka yang
tidak ternilai harganya. Konsep ruang yang dibentuk oleh masyarakat Batak
tersebut sangat dipengaruhi bentukan alamnya masingmasing. Hunian-hunian
tersebar di beberapa kawasan dengan corak ragam budaya yang terkandung (Utami,
2017). Berbagai dokumen sejarah (tulisan maupun foto) menggambarkan bentang
alam kaldera menjadi salah satu tempat bermukim masyarakat batak yang tersebar
tidak hanya di satu titik saja. Kepercayaan yang dianut masyarakat Batak pada
umumnya dijadikan pertimbangan dalam pembentukan ruang-ruang hunian (Fitri,
2004; H Hanan, 2010; Himasari Hanan, 2012; Pujiono, Agustono, & Aulia,
2018).
Ruang Sosial Budaya Masyarakat
Utama dari nilai
ruang pusaka saujana Danau Toba adalah gambaran kehidupan masyarakat dalam
beraktivitas
Masyarakat Batak
memiliki ragam budaya yang sangat banyak, misalnya produk kerajinan tangan,
ragam tarian, adat istiadat dan sejenisnya. Berbasis komunitas yang ada,
masyarakat Batak tetap melestarikan budayabudaya tersebut termasuk dalam
pelestarian rumah-rumah adat yang tersebar di banyak wilayah. Di berbagai
wilayah kita masih bisa menyaksikan masyarakat yang membuat ulos secara manual,
baik yang dilakukan di kawasan dengan rumah adat yang masih ada (contoh kawasan
Lumban Suhi Suhi), maupun di kawasan permukiman baru (contoh permukiman di
sekitar Huta Sialagan). Selain itu juga berbagai festival tetap dilakukan
dengan beberapa adat istiadat yang melekat didalamnya. Termasuk didalamnya
adalah berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat dengan memanfaatkan perairan
danau.
Pengembangan Pariwisata Pusaka Saujana Danau Toba
Saat ini, Danau
Toba dengan kawasan yang dikelilingi maupun yang mengelilingi diberi banyak
program seiring dengan penetapan Kawasan Danau Toba sebagai salah satu
destinasi wisata nasiona. Potensi-potensi yang sudah terbentuk di kawasan sudah
seharunya menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan sebagai kawasan
pariwisata yang berbasis nilai ruang dan budaya tersebut. Nilai ruang dan
budaya Danau Toba adalah sistem kesatuan ruang fisik yang terdiri dari danau
dengan perairannya, dataran Samosir, dataran Sumatera dan kaldera-kaldera yang
ada yang terdukung oleh budaya masyarakat Batak yang sudah turun temurun. Nilai
tersebut yang akan menjadikan kawasan Danau Toba mampu sebagai kawasan
pariwisata pusaka. Pusaka Saujana Danau Toba merupakan sistem tak terpisahkan
yang terdiri dari danau dengan perairannya, dataran Samosir dan dataran
Sumatera serta kalderanya yang menjadi tempat kehidupan masyarakat Batak.
Masyarakat dengan ruang-ruang yang ada membentuk permukiman-permukiman dengan
aktivitasnya. Ruang-ruang yang terbentuk menunjukkan adanya interaksi masyarakat
pada alamnya dengan perubahan-perubahan yang ada. Dibutuhkan terobosan baru
bagi kawasan pada saat akan dilakukan pengembangan pariwisata. Salah satu
tujuannya adalah agar pengembangan kawasan pariwisata tidak merusak nilai
Pusaka Saujana yang sudah terbentuk. Selain itu juga dibutuhkan pemahaman nilai
ruang dan budaya pada masyarakat agar mampu menterjemahkannya dalam ruang-ruang
baru sesuai dengan kebutuhannya. Sementara di satu pihak, dibutuhkan adanya
sinergitas pemerintah daerah dengan pemerintah pusat untuk membentuk ruang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang berdasar nilai keruangannya.
Kesimpulan
Danau Toba
dengan fisik lingkungan yang dikelilingi maupun yang mengelilinginya telah
menjadi ruang pusaka saujana Danau Toba sebagai pendukung mozaik Pulau Sumatera.
Ruang-ruang terbentuk sebagai interaksi masyarakat terhadap bentukan ruang
sebagai bagian dari proses sejarah yang terjadi. Masyarakat dengan konsepsi
keyakinannya membentuk ruang-ruang sebagai bagian dari kehidupannya dengan
tetap menyesuaikan perkembangan saat ini dan kebutuhan di masa yang akan
datang. Sudah seharusnya pengembangan ruang kawasan sebagai bagian dari
pemikiran masyarakat didukung kebijakan pemerintah dengan tetap mengacu pada
nilainilai yang sudah terbentuk sebelumnya. Pengembangan kawasan, khususnya
kawasan pariwisata jangan sampai memberi identitas baru tanpa ada nilai lama
yang sudah melekat sebelumnya
REFERENSI
https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Toba
https://www.worldcat.org/title/toba-samosir-untuk-dunia-pelestarian-pusaka-saujana/oclc/858158381
HTTPS://RUAS.UB.AC/INDEX.PHP/RUAS/ARTICLE/DOWNLOAD/293/240








Komentar
Posting Komentar